Rabu, 17 Juni 2015

Secangkir Kopi Tambora

KOMPAS/SUSI IVVATY Kopi tambora disangrai hingga kecoklatan.

RASANYA semua orang sedang memburu Tambora. Tiket pesawat menuju Bima seperti barang langka. Mau tak mau, perjalanan harus ditempuh lewat‎ darat dan kemudian menyeberang laut. Ironisnya, itu bermula dari Bandara Internasional Lombok.

Satu kabar terngiang-ngiang di kepala: ada festival kopi di Labuan Kenanga, Kecamatan Tambora, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Maka dimulailah perjalanan panjang dan melelahkan. Namun, terus terang ini sedikit membahagiakan. Kabar festival kopi di desa kecil itu bikin penasaran. Sebagai penggemar kopi, saya ingin segera mencicipi rasa kopi tambora!

Perjalanan fase pertama dari Bandara Lombok di Lombok Tengah ke pelabuhan laut Kayangan, Lombok ‎Timur memakan waktu selama 4 jam dengan mobil sewaan. Bersama rombongan panitia World Cultural Forum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kami hanya berhenti sejenak di daerah Selong untuk membeli beberapa ikat rambutan dan tiga buah durian.



KOMPAS/SUSI IVVATY Pulau Satonda dilihat dari Pelabuhan Kenanga, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
Fase kedua ditempuh selama 2 jam dengan kapal feri Mutiara Pertiwi menuju pelabuhan Pototano di Sumbawa Barat. Kami membelah laut lepas di tengah teriknya ‎matahari, hilir mudik menelusuri sudut-sudut kapal karena tidak kebagian tempat duduk. Kami melihat empat lelaki berbagi nasi dengan lauk tahu dan ayam kecap di geladak belakang‎.

Perjalanan fase ketiga, kami serasa membelah Pulau Sumbawa, melewati Sumbawa Barat, Sumbawa Besar, Dompu, lalu Bima. Beruntung, pemandangan di sepanjang perjalanan memberi asupan gizi bagi mata. Panorama pantai Pulau Sumbawa menuguhkan warna biru laut yang beradu lalu menyatu biru langit dan bongkah-bongkah awan putih.

Sekitar sepuluh jam perjalanan kami tempuh sampai tiba di Desa Labuan Kenanga. Sepuluh jam yang melelahkan, yang dengan cepat berubah menjadi semangat setelah melihat gerombolan sapi, kerbau, dan kuda yang dengan santai berjalan di tengah jalan. Pak Nasir, sopir kami, harus beberapa kali mengerem karena di depan mobil tiba-tiba ada sapi, berdiri melintang, entah dari mana datangnya. Nyaris tak ada lampu penerangan sepanjang perjalanan.

Kami tiba tepat tengah malam.

KOMPAS/SUSI IVVATY Proses menyangrai kopi tambora dengan menggunakan bahan bakar arang.

”Festival” kopi tambora

Embusan angin pagi di tubir pantai Kenanga, Desa Labuhan Kenanga, terasa segar, menyapa penduduk yang mulai ramai menuju tempat pelelangan ikan di ujung sana. ‎Di satu sisi pantai, beberapa orang menyiapkan tungku atau anglo dengan bahan bakar arang, wajan atau penggorengan, dan butiran-butiran kopi yang hendak disangrai.

Festival kopi tambora yang dimaksud itu rupanya tak lain dari lomba meracik kopi, mulai dari menyangrai biji kopi hingga coklat kehitaman, menumbuknya hingga menjadi butiran halus, lantas menyeduhnya. Lomba yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bima ini memperebutkan hadiah antara lain ponsel, selimut, serta peralatan elektronik dan kebutuhan rumah tangga lain.

Jangan bayangkan juri lomba ini pakar kopi dari kota. Jurinya antara lain Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima Syafruddin H Ahmad serta Sekretaris Camat Syamsuddin. ”Ya, apa yang menurut kami enak dan pas rasa kopinya, ya, itu yang menang,” kata Syamsuddin.


KOMPAS/SUSI IVVATY Perjalanan ke Pulau Satonda bisa ditempuh dengan kapal atau speedboat dari Pelabuhan Kenanga.
Seru juga melihat para perempuan, yang kadang sambil cekikikan menyangrai kopi. Ada 20 peserta lomba dan sepuluh di antaranya menang. Lho? Rupanya pemenangnya diambil dari juara pertama hingga kelima dan tiap ‎juara itu ada dua orang. Juara pertama ada dua orang, juara kedua, dua orang, dan seterusnya. Wah, unik.

”Harus sabar untuk menyangrai kopi. Apinya kecil supaya tidak cepat gosong. Nah, ini saya belum selesai menggongseng, itu empat peserta lain sudah selesai, he-he-he,” kata Raodah, juara kedua lomba meracik kopi dari Desa Oibura, desa penghasil kopi robusta dan arabika besar di Bima.

Juara pertama lomba, Rosdiana, warga Desa Oibura, menceritakan rasa kopi tambora yang sedap dan masih diolah secara tradisional. Pemilik 2 hektar kebun kopi ini biasa melayani ‎para pembeli dari masyarakat lokal saja. Satu plastik kopi seberat 300 gram ia hargai Rp 20.000, sama dengan penjual kopi lain. Jika ada pemesanan biji kopi mentah dari Jakarta, siap? ”Ya siap,” kata Rosdiana, yang rata-rata memanen 500 kilogram hingga 1 ton kopi setahun.

Melalui film dokumenter mengenai koperasi di Tambora pada 1932, tergambar perkebunan kopi seluas 56.000 hektar di Oibura. Skenario film berbahasa Swedia ini ‎ditulis Lindstrom Jan Gunnar. Film ini menggambarkan betapa kebun kopi yang luas sudah terhampar di Tambora sejak tahun 1930-an.

KOMPAS/SUSI IVVATY Juara 1-5 (paling kanan juara pertama) dalam lomba meracik kopi tambora.
”Sekarang kebun kopi itu sudah menjadi milik warga. Ada yang punya 1 hektar, 2 hektar, hingga berhektar-hektar. Selain kopi, hasil kebun yang juga besar adalah jambu mete,” kata Syamsuddin.

Sri Hayati memiliki 7 hektar lahan yang ditanami pohon kopi. Sebagian besar lahan diwariskan orangtuanya dan sisanya ia beli dari warga lain. ”Campuran robusta dan arabika,” katanya.

Lomba meracik kopi telah usai. Juara sudah diumumkan. Hadiah telah dibagikan. Saatnya menyeruput kopi yang masih panas mengepul dari cangkir logam. Tanpa gula, kopi tambora ini sedap betul. ‎Saya berjalan menuju Pantai Kananga. Sambil menatap Pulau Satonda jauh di sana, saya menikmati pahitnya kopi tambora.

Secangkir kopi tambora, ah sedapnya....

Sumber : http://travel.kompas.com

0 komentar:

Posting Komentar

 
;