Rabu, 17 Juni 2015

Apakah Kopinya Orang Indonesia ?

 

Oleh : Cahyadi Takariawan 

Beberapa waktu yang lalu saya diajak mas Agung dan mas Wawan, dua warga Indonesia yang bekerja di Boeing, berjalan-jalan ke downtown Seattle. Salah satunya diajak mengunjungi kedai kopi Starbuck yang pertama kali. Mengherankan, ternyata kedainya sangat sederhana. Tidak seperti penampilan gerai Starbucks yang di berbagai kota yang tampak mewah dan bergengsi, Starbucks yang pertama ini justru dipertahankan keasliannya.



Di bagian pintu depan tertulis 1912, menandakan tahun awal pendirian kedai kopi internasional ini. Bermula dari kedai kopi kecil dan sederhana di kota Seattle, kini akhirnya merambah ke berbagai dunia. Seakan Starbucks sudah menjadi “kebanggaan” para peminum kopi. Di Indonesia, masyarakat banyak yang datang dan menikmati kopi Starbucks. Ini pertanda kopi Starbucks sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dunia. Di negara manapun kita berada, bisa menikmati cita rasa Starbucks.



Saya bukan ahli kopi, dan tidak pandai menilai kopi. Jika dilihat secara cermat, ada beberapa jenis kopi unggulan yang dijual Starbucks ternyata milik Indonesia, seperti Java Coffe dan Sumatera Coffe. Kopinya dari Indonesia yang merupakan kopi pilihan, tapi dibuat menjadi bergengsi dan berkelas internasional oleh perusahaan Amerika. Lalu mengapa kita tidak bisa membuat kopi kita sendiri berkelas internasional ? Merk memang sangat penting dan sangat mempengaruhi selera, harga serta gengsi.



Di Indonesia saya sangat menyukai kopi Aceh yang menurut saya aromanya luar biasa harum dan menggugah selera. Jika tengah berkegiatan di Aceh, sepulang shalat Subuh di masjid kita sudah bisa mencium harum bau kopi karena kedai kopi di Aceh buka 24 jam. Di Ulee Kareng terdapat kedai kopi yang sangat terkenal, menyajikan kopi Aceh yang sangat enak. Sayang masih berkutat di tingkat lokal, padahal cita rasanya sangat menantang untuk go internasional.

Di Jawa Tengah kita bertemu kampung kopi Banaran yang menyediakan kopi dari kebun kopi Banaran yang sangat luas. Saya sangat senang menikmati kopi panas di kampung kopi Banaran, ditambah menu singkong goreng, pisang goreng, tempe serta tahu goreng panas. Pagi-pagi usai subuh saya berangkat dari Jogja, nanti sekitar jam tujuh pagi sudah tiba di kampung kopi Banaran untuk menikmati aroma kopi yang sangat khas. Sayang, ini juga hanya berkelas lokal, belum bisa dipasarkan ke kelas dunia.

Di Kanada, masyarakat berbangga dengan Tim Hortons Coffe yang dianggap kedai kopinya orang Kanada. Konon, pernah Tim Hortons dibeli oleh Wendy, perusahaan Amerika, namun akhirnya dibeli kembali oleh Kanada, dan sampai sekarang dipertahankan sebagai ciri khas serta kebanggaan warga Kanada. Mereka tidak memperbolehkan Tim Hortons dibeli oleh negara manapun dalam rangka mempertahankan merk asli Kanada yang akan dilempar ke pasar internasional. Walau Tim Hortons sepertinya belum sampai di Indonesia, namun sudah dikenal luas bahwa Tim Hortons adalah kopinya orang Kanada.

Lalu mana kopinya orang Indonesia ? Kita memiliki aneka kopi dengan aneka pilihan cita rasa. Ada kopi Toraja, ada kopi Luwak, ada kopi Lampung, ada kopi Bengkulu, kopi Jambi, kopi Kopyol Bangli, kopi Aceh, kopi Gayo, kopi Sidikalang, kopi Banaran, kopi Subang, kopi Jember, dan banyak sekali kopi selera nusantara. Di setiap daerah memiliki kopi yang khas. Kualitas terbagusnya kita jual ke luar negeri, dan kita relakan dijadikan komoditas internasional oleh negara lain dengan kekuatan merk yang mereka miliki. Akhirnya kita menikmati Kopi Sumatera, Kopi Jawa, Kopi Sulawesi di Starbucks punya Amerika.
Mungkin kita terlalu sibuk mengurus politik, korupsi, kericuhan Pilkada, dan tawuran pelajar, sampai tidak bisa memasarkan kopi kita sendiri ke pasaran internasional. Mungkin karena kita lebih suka konflik sehingga kopi kita diambil orang. Mungkin karena kita terlalu silau oleh merk-merk besar sehingga lebih berbangga meminum kopi sendiri di kedai orang, seperti Starbucks yang bertaraf dunia.

Padahal kita tahu kedai pertama Starbucks sangat sederhana. Tidak tampak mewah dan tidak berkesan berkelas dunia. Kedai kecil, biasa saja, di depan public market Seattle. Seperti warung kopi Ulee Kareng di Aceh, atau Kampung Kopi Banaran.

Kapan kita bisa bangga dengan kopi kita sendiri ?
Selamat menikmati kopi.......

gambar : Google.com

0 komentar:

Posting Komentar

 
;